Al-Azhar didirikan di Mesir oleh Daulah Fathimiyah yang beribukota di Maroko pada masa pemerintahan Khalifah Muiz Lidinillah (khalifah yang keempat), lewat panglimanya Jauhar As Shaqily ketika memasuki Mesir pada tahun 358H/969M. Kemudian membangun kota Cairo, dan menempatkan pusat militernya di selatan Fusthath.

Pada tanggal 14 Ramadhan 359H/971M dimulailah pembangunan masjid agung di tengah Cairo oleh As Shaqily, dan memakan waktu selama dua tahun dan digunakan untuk shalat pertama kali pada 17 Ramadhan 360H/972M. Di sekeliling masjid ini dibangun dua istana megah pada masa khalifah al Aziz Billah. Kedua istana tersebut dipisahkan oleh sebuah taman yang sangat indah. Masjid jami’ ini terletak di sebelah barat taman tersebut. Tata kota Cairo di sekitar istana ini benar-benar menakjubkan, sehingga akhirnya masjid jami’ ini dikenal sebagai Jami’ Al-Azhar, berasal dari kata Zahra` yang berarti bercahaya dan berkilauan. Ada yang menisbatkannya kepada nama Putri Rasulullah Fatimah Az Zahra`.

Pertama kali bangunan masjid ini hanya terdiri dari hamparan masjid (yang sekarang bagian terbuka) dan dikelilingi dengan tiang-tiang besar yang mempunyai dua sisi bangunan. Keduanya terdiri dari tiga ruwak (tempat yang terletak antara tiang-tiang). Kemudian ditambah dengan ruwak-ruwak baru, sekolah dan mihrab-mihrab, menara Al-Azhar dan tempat wudlu. Kemudian dalam perkembangannya Al-Azhar mengalami renovasi dan perluasan-perluasan sehingga tampak bagus.
Dengan berbagai tambahan dan perluasan akhirnya Al-Azhar termasuk salah satu masjid terbesar yang ada di Mesir.
Kini Al-Azhar memiliki lima menara dengan bentuk yang berbeda dan dibangun dalam waktu yang berlainan. Dua diantaranya dibangun pada masa Abdurrahman Katakhda. Satu lagi dibangun pada masa Sulthan Qaytaba. Dan satu lagi menara besar yang mempunyai dua puncak kepala yang indah, dibangun pada masa Sulthan Al Ghauri. Terhitung sebagai menara masjid Al-Azhar yang terbesar. Selain itu memiliki enam mihrab dan tiga buah kubah serta 380 tiang.

Perkembangan Kurikulum Pendidikan Al-Azhar

Al-Azhar pada mulanya bukanlah dibangun untuk disiapkan sebagai universitas atau sekolah. Akan tetapi dibangun sebagai masjid Dinasti Fathimiyah, sebagai pusat untuk menyebarkan ajaran dan dakwahnya. Mereka mengatur sedemikian rupa demi kelancaran dakwah. Dengan serta merta dipilihlah pimpinan pengelola lembaga ini, disyaratkan seorang yang benar-benar alim di bidang madzhab ahlul bait. Dan sejak saat itu dibentuk Majlis Dâ’i Du’ât (majlis para da’i).

Adapun pendidikan Al-Azhar pada mulanya berorientasi ke madzhab Syi’ah. Diktat pertama yang dipelajari adalah “Iqtishâd fî fiqhi âly al-Bait” karya Abu Hanifah Nu’man bin Abdullah al-Maghriby. Sampai pada tahun 369 H Ya’qub bin Kalas (mentri khalifah Al Aziz Billah) mengarang kitab fiqh madzhab Fathimy yang dibacakan setiap hari Jum’at. Disamping juga Syeikh Ali bin Nu’man al-Qairawani mengajarkan fiqh madzhab syi’ah dari kitab Mukhtashar al-Fiqh, diajarkan sejak tahun 365 H.

Kemudian pada tahun 378 H Al-Azhar benar-benar resmi menjadi sebuah lembaga pendidikan dengan diaturnya jadwal materi dan para pengajarnya. Maka dilantiklah 37 tenaga pengajar. Dan model serta sistem pengajarannya menggunakan halaqah yang dipandu seorang syeikh di salah satu bagian ruwak sesuai dengan materi masing-masing. Selain itu ada majelis khusus untuk wanita. Disamping berkecimpung dalam dunia keilmuan, Al-Azhar juga terjuan dalam bidang seni, filsafat, bahasa dan olah raga.

Itulah sekilas pusat kegiatan keilmuan, satu-satunya Masjid Resmi sebagai Islamic Centre pada masa Fathimiyah sampai tahun 568 H.
Bergantilah pemerintahan negeri Al-Azhar ini ditangani Daulah Ayyubiyah yang memberantas habis madzhab Syi’ah. Serta peran pendidikan Al-Azhar selama tiga kurun mulai redup. Terlebih ketika saudara Shalahudin al-Ayoubi yang berkuasa kala itu mendirikan sekolah-sekolah baru. Secara otomatis banyak tenaga yang tersedot hingga Al-Azhar menjadi sepi.

Namun fungsi masjid masih tetap memerankan posisinya dengan baik. Sampai datanglah periode pemerintahan mamalik, yaitu pada pemerintahan Ad Dhahir Bibers (665 H) yang mengembalikan ruh pendidikan yang menjadi cita-cita berdirinya Al-Azhar. Kegiatan keilmuan dan nuansa cakrawala berpikir dan berwawasan mulai merebak di sudut-sudut kota. Dan mencapai puncak kegemilangannya sepanjang sejarah selama rentang waktu pada abad XV H. Bahkan sampai ulama-ulama besar dari luar negeri menjadi tenaga pengajarnya. Seperti Ibnu Khaldun ketika berkunjung ke Mesir tahun 784 H/ 1382 M. Serta lembaga ini telah melahirkan ulama-ulama berkaliber internasional sekelas Jalaludin As Suyuthy (911 H/1505 M), Ibnu Hajar Al-Asqalany (845 H/1442 M), dan masih banyak lagi.
Kondisi ini semakin terpacu ketika Baghdad sebagai pusat peradaban kala itu diluluhlantakkan oleh pasukan Mongol. Selain itu pembantaian besar-besaran yang dialami oleh umat islam di Andalus (spanyol) oleh kaum salibis secara membabi buta. Kembalilah kesadaran putra-putri penerus estafet ini kian mengkristal dan mencari solusi akan derita serta problematika umat yang dihadapi kala itu. Berbagai program pembaharuan dicanangkan termasuk penggalakan mencerdaskan kehidupan umat serta menyadarkannya akan realita umat yang terjadi sebenarnya. Di samping dibantu kondisi banyaknya ulama Baghdad dan eropa (Andalus) yang mengungsi ke Mesir dan Utara Afrika.

Ada satu hal yang perlu dicatat pada masa ini, bahwa orientasi pendidikan keilmuan dan keagamaan saat itu tak lagi berkiblat ke madzhab Syi’ah namun dibangun atad paham Ahlu As-Sunnah. Adapun disiplin ilmu yang dipelajaripun sudah mulai bervariasi. Mulai dari ilmu-ilmu al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Kalâm, Ushûl, Bahasa, Sejarah, Balâghah dan Nahwu.
Pada abad VI Hijriah mulai dipelajari ilmu-ilmu sosial kemanusiaan semisal Kedokteran, Filsafat dan Mantiq. Syeikh Abdul Lathif adalah penggagasnya. Demikian halnya pada waktu pemerintahan Daulah Utsmaniah, bahasa Arab masih bertahan menjadi bahasa ibu dan bahasa resmi bangsa Mesir sehingga masih menjaga peradaban Arab yang asli.

Seorang syeikh sangat kharismatik dalam menentukan arah kebijaksanaan Al-Azhar namun secara resmi barulah diangkat secara simbolik sebagai Syeikh Al-Azhar yang pertama adalah Syeikh Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi. diangkat secara resmi sebagai Grand Syeikh yang pertama pada tahun 1101 H. Beliau adalah kelahiran Khurasy daro propinsi Buhaira. Hingga sekarang ada 40 syeikh Al-Azhar. Yang terakhir adalah Syeikh Muhammad Sayyid Tahantawi (mantan mufti).
Ketika era kolonisasi Eropa merambah ke Mesir terutama dengan masuknya Perancis tahun 1798 M kegiatan Al-Azhar sempat terganggu. Terlebih setelah Syeikh Syarqawi menutup Al-Azhar pada 22 Juni 1800 M kemudian membuka kembali pada Oktober 1801 M. Yaitu pada saat Inggris menggantikan kedudukan Prancis di Mesir.
Pada masa Muhammad Ali Basya, dikirimkanlah beberapa mahasiswa ke eropa untuk mempelajari ilmu kemanusiaan dan pemikiran modern. Pada tahun 1864 M Kantor Administrasi Syeikh Al-Azhar mengeluarkan keputusan tentang materi-materi yang dipelajari di Al-Azhar; Fiqh, Nahwu, Sharf, Ma’âni, Bayân, Badi’, Matan Lughah, ‘Arûdh, Qâfiyah, Filsafat, Tashawuf, Mantiq, Hisab, Aljabar, Falak, Enginering, Sejarah dan Rasm al-Mushaf. Dan tenaga pengajar adalah para alumni yang telah menamatkan sedikitnya sebelas disiplin ilmu diatas dan lulus seleksi dan ujian yang ditangani majelis yang terdiri dari enam orang yang diketuai syeikh Al-Azhar.

Pada masa Muhammad Ali (1517-1798 M) sempat mengalami kemunduran, dikarenakan sistem pendidikan yang terpisah sehingga terkesan pengkotakan antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Terlebih Muhammad Ali menganggap Al-Azhar sebagai lembaga nasional milik Mesir, sehingga seenaknya mengelola.
Dan dalam perkembangannya Al-Azhar pun mengeluarkan ijazah bagi para alumninya. Ini diprakarsai oleh syeikh Muhammad Mahdi pada tahun 1287 H. Dan pada tahun 1896 M mulai ada transkip nilai seperti sekarang, serta mulai dibuka spesialisasi-spesialisasi seperti hukum dan qadla` serta dakwah. Selain itu Al-Azhar juga membuka cabang-cabangnya di beberapa propinsi besar di Mesir.

Dan Al-Azhar pun kini menjadi Universitas Islam yang tertua, sebagai ibu bagi para penerus estafet perjuangannya baik di Timur maupun di Barat. Ia merupakan benteng pertahanan keilmuan dan pemikiran dari hunjaman dan serangan musuh-musuh Islam. Al-Azhar merupakan lembaga keilmuan Islam yang besar yang menjaga turats Islami dan menyebarkan misi dan amanah Islamiyah kepada segenap umat di pelosok-pelosok bumi.

Rekaman Sejarah Perjuangan Al-Azhar

Dalam rekaman sejarah Al-Azhar tercatat senantiasa berjuang melawan segala bentuk penjajahan di muka bumi ini. Sebuah contoh realita adalah ruh perjuangan yang ditanamkan pada rakyat benar-benar mengakar sehingga rakyat bangkit dengan revolusi 21 Oktober 1798 M. Al-Azhar dijadikan pusat pergerakan. Syeikh Al Sadât diangkat sebagai koordinator umum. Sebagian orang mengumpulkan sukarelawan dan senjata dan ratusan yang lainnya menyebar ke seluruh pelosok negeri mengobarkan semangat jihad para rakyat serta mengajaknya berkumpul di Al-Azhar. Sampai akhirnya rakyat Mesir menyemut bergerak ke pusat di Al-Azhar. Terkumpul sekitar 8000 orang plus beberapa ribu orang dari dalam kota. Syeikh Umar Makram dan Syarqawi memimpin masa bergerak di jalan-jalan kota meneriakkan panggilan jihad kepada seluruh penduduk untuk mengusir Perancis. Sampai akhirnya terbunuhlah Jendral Debuih kepala perwakilan pemerintahan Perancis di Cairo.
Tak ayal lagi Perancis kaget dan membabi buta mengumbar kemarahannya. Moncong-moncong meriam diarahakan ke tubuh-tubuh yang tak berdosa. Tembok-tembok Al-Azhar pun tak luput dari sasaran tembak puluhan bom-bom. Darah para putra-putri Mesir menggenang di jalanan. Jumlah korban diperkirakan 4000-an termasuk wanita dan anak-anak. Memang setelah terjadi peristiwa ini banyak penangkapan dan intimidasi terhadap ulama dan tokoh-tokoh Islam. Namun Prancis tak mampu bertahan lama. Terbukti dengan terbunuhnya gubernur selanjutnya ditangan santri Al-Azhar, Sulaiman Al Halaby. Meski akhirnya ia digantung. Demikianlah Al-Azhar memimpin Revolusi Mesir yang pertama dipimpin oleh Syeikh Sadât dan yang kedua kalinya dimotori duet Syeikh Umar Makram dan Syarqawi.
Setelah Prancis hengkang dari Mesir dan digantikan Inggris Al-Azhar tak henti-hentinya menyuarakan semangat jihad kedalam segala relung kehidupan rakyat. Pada tahun 1807 M adalah contoh konkrit bentuk perlawanan Al-Azhar dan rakyat Mesir terhadap Inggris.
Perjuangan Al-Azhar bukan hanya melawan penjajahan naum juga memberantas kedikdatoran hukum dan pemerintahan dalam negeri (meskipun untuk peran nyatanya sekarang mengalami berbagai kendala politik dengan kehilangan sarana konkrit). Sebuah contoh semasa pemerintahan Mamalek yang mulai rusak moralnya.
Para ulama Al-Azhar lah yang memotori revolusi Orabi. Ahmad Orabi adalah seorang Azhari disamping juga para pendahulunya Syeikh Muhammad Abduh dan Rifaat Thahthawi. Ulama-ulama berada di garda terdepan menantang maut membela Islam melawan Inggris pada revolusi 9 Maret 1919 M. Pada even selanjutnya Saad Zaghlul yang juga pemimpin revolusi adalah putra Al-Azhar disamping juga mulai bangkitnya kesadaran jihad yang menyala-nyala kalangan kaum wanitanya.
Al-Azhar terus menyeru tak henti-hentinya melawan penjajahan dan taghut sampai akhirnya benar-benar terwujud impian itu dengan berakhirnya revolusi Mesir pada 23 Juli 1952 M. Mesir dipimpin Gamal Abden Nasser melakukan revolusi memaksa Raja Faruk untuk menyerahkan jabatannya. Dan akhirnya sistem pemerintahan Mesir dari kerajaan diubah menjadi republik. Muhammad Naguib terpilih menjadi presiden pertama bagi Mesir.
Kekuatan asing pun -Inggris- akhirnya terpaksa menyingkir dari Mesir. Terhitung sejak 18 Juni 1956 yang oleh Mesir diperingati sebagai idul jala (hari hengkangnya Inggris).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *