Tujuh “Dosa” Seorang Entrepreneur

Membangun usaha adalah gampang-gampang susah. Namun, satu kunci utama untuk memulai usaha adalah optimisme dan semangat untuk terus berkembang. Usai membangun dan mengembangkan usaha, salah satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh seorang entrepreneur adalah menjaga stamina untuk secara kontinu mengembangkan bisnis.

Selain menjaga stamina, ada beberapa hal yang layak dihindari oleh para pewirausaha tersebut. Dalam situs Inc.com, Kevin Daum memaparkan “tujuh dosa” yang sebaiknya dihindari oleh para pewirausaha.

1. Terlalu bernafsu
Salah satu perangkap yang bisa merusak bisnis yang dibangun pewirausaha adalah terlalu bernafsu. Biasanya, sikap nafsu lebih digerakkan oleh keinginan meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa disertai dengan langkah-langkah strategis dan pertimbangan realistis. Akibatnya, lantaran nafsu, pewirausaha justru sering jatuh karena alasan tersebut.

2. Berlebihan

“Lebih besar pasak daripada tiang” mungkin menjadi perumpaan yang pas untuk menggambarkan niat untuk mendapatkan secara berlebih tanpa memandang kondisi nyata perusahaan. Akibatnya, pewirausaha terlalu bernafsu sementara modal, infrastruktur, serta sumber daya belum mencukupi.

3. Kerakusan
Memaksimalkan modal perusahaan adalah penting untuk bisnis. Profit juga selayaknya dilipatgandakan. Namun, jangan sampai kerakusan untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya justru berbahaya bagi reputasi perusahaan. Banyak cara untuk mengembangkan profit ini. Namun mengejar profit dengan menghalalkan segala cara tidaklah dibenarkan. Reputasi jauh lebih penting untuk sustainaibility perusahaan ketimbang sekadar profit.

4. Kemalasan
Seorang pewirausaha tahu bahwa kunci sukses adalah kerja keras. Sebab itu, kemalasan adalah sifat yang harus dihindari. Sikap malas dan menunda membuat pewirausaha tidak bakal bisa memajukan bisnis dan usahanya.

5. Kegusaran
Passion merupakan komponen penting dalam kewirausahaan. Namun, jangan biarkan emosi yang meluap-luap menguasai sehingga melahirkan keputusan-keputusan yang irasional dan tidak realistis. Termasuk di sini, seorang pewirausaha tidak boleh dikuasai oleh kegusaran dan kemarahan yang berpotensi merusak apa yang sudah dibangun.

6. Iri
Kompetisi dalam bisnis itu lumrah dan sehat. Kompetisi bisa membantu pebisnis untuk mengedukasi konsumennya secara lebih baik lagi. Namun, satu hal yang wajib diwaspadai bagi pewirausaha adalah sikap iri hati terhadap kompetitor. Janganlah hipersensitif terhadap segala kesuksesan dan kelebihan yang dimiliki oleh pesaing. Pengusaha yang jatuh pada sikap iri hati hanya akan buang-buang enegeri positif untuk melakukan pengembangan bisnisnya. Bisnis pun jadi tidak bisa tumbuh secara optimal karena iri hati tersebut. Lebih baik, tetap menjaga optimisme dan fokus pada langkah-langkah positif untuk memajukan bisnis yang sudah dimulai tersebut.

7.Kesombongan
Ego dalam membangun bisnis sering mengemuka. Hal ini lumrah karena setiap pebisnis ingin bisnisnya sukses dan bisa melebihi para pesaingnya. Kebanggaan pada diri sendiri sering membuat orang jatuh pada kesombongan. Hal ini berbahaya karena orang bisa terlena untuk “glorifyng” dirinya dan lupa pada langkah-langkah strategis untuk terus memajukan bisnisnya.