Soto Pesek, Dari Jalanan menuju Metropolitan. Journey to the West (part 1)

Perkenalan dengan  mas Darsono Pesek, pemilik Soto Pesek, sebuah warung kuliner soto, terjadi pada saat menghadiri pertemuan KMM ( Kelompok Master Minds ) Komunitas Tangan Di Atas Pusat yang diselenggarakan di BSD Junction, Tangerang. Kebetulan mas Darsono yang berasal dari Lamongan ini memiliki Cabang Outlet Soto Pesek di ITC BSD (seberang BSD Junction).

Ketika pertama bertemu, beliau langsung memperkenalkan Soto Pesek dan bertanya apa kesan pertama yang saya tangkap ketika mendengar nama “Soto Pesek”. J Brand Riset di pembuka percakapan ! Hmmmm bakalan bertambah menarik nih perkenalannya. Percakapan kami harus ditunda karena harus menyimak penyampaian pentingnya KMM di TDA yang disampaikan oleh pak Roni dan pak Hertanto.

Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, pas jam istirahat, mas Darsono mengajak mampir ke Outlet Sotonya di ITC Seberang Jalan. Ini yang di tunggu-tunggu J , maklum belum sarapan, setelah Long Journey to the West. Semua rombongan TDA Semarang ditraktir makan Soto Pesek.

Sembari duduk menunggu kedatangan menu pesanan, mas Darsono kembali menanyakan hal yang sama, apa kesan pertama mendengar Soto Pesek ? Ya Karena tidak mancung jawab saya sekenanya…hehehehe. Unik !!! Sebuah merek/brand unik dengan kata sederhana yang dikenal semua orang.

Menu Soto Ting-ting dan Ayam Goreng Tong-Tong telah datang, saatnya beraksi !!! Apalagi Mas Zaky sebagai komandan PAM (Pasukan Anti Mubazir) ada di depan saya, pantang untuk sungkan !!! JJJJ

Sambil makan Soto Rasa mbayar (rasa ayam maksud saya..hehehe), kita lanjutkan lagi pembicaraan (Redaksi : mohon jangan ditiru karena tidak baik makan sambil ngobrol). Kemudian mas Darsono bercerita bagaimana awal beliau berbisnis dengan “Modal Dengkul”, bener-bener dengkul yang jadi modal. Bagaimana tidak ? mas Darsono berangkat dari Lamongan menuju Jakarta dengan Naik KA Tanpa Karcis ! Dengkulnya harus bener-bener kuat untuk kejar-kejaran dengan kondektur KA J. Dengkul kedua adalah Modal yang didapat dari meminjam uang 1 juta untuk membuat gerobak, peralatan dan bahan. Dengkul ketiga adalah …..sik…sik…opo ono dengkul ketiga yo? JJJJ Mas Darsono berjualan soto dengan mendorong gerobak keliling jalanan. Kasihan dengkulnya sampeyan ya mas ?

Karena kasihan dengan dengkul, mas Darsono mulai berpikir untuk mencari tempat mangkal yang tetap berjualan soto. Akhirnya beliau bisa bernegosiasi dengan Satpam gedung yang belum jadi untuk mangkal di sebuah tempat. Berjalan tak berapa lama mas Darsono kembali berpikir bahwa tidak mungkin selamanya mangkal di tempat tersebut, pasti suat saat akan digusur yang empunya tempat. Berbekal modal yang sudah terkumpul, Soto Pesek membuka Outlet pertamanya di Mall di Tangerang.

Break dulu…..bagaimana rasa sotonya ? Tanya mas Darsono. Sudah tau jawabannya khan ? Maknyusss mas khan Rasa Mbayar (ora usah mbayar alias gratis) hehehehe.

Mas Darsono bertanya rasa sotonya karena memang dalam berbisnis kuliner itu lain. Jika berbisnis yang lain bisa dipastikan yang memegang peranan penting adalah tempat, tempat dan tempat. Sedangkan berbisnis Kuliner itu no.1 ya Rasa. Mau tempatnya di Mall, di Gang sempit, di pinggir kali, di Stasiun, di Café kalo enak pasti diburu orang !!!

Berbisnis itu harus titis (jeli melihat peluang dan tepat sasaran), Mas Darsono menambahkan bahwa semua itu berkah Allah dan jangan lupa berbagi, kalau bisa angkat karyawan dari orang-orang yang memang sangat membutuhkan pekerjaan dan atau yatim piatu. Insya Allah Barokah.

Mas Darsono  senang berbagi ilmu, banyak sekali yang ingin disampaikan namun mepetnya waktu kami tidak bisa nambah…eh…tidak bisa lama-lama dan harus berpamitan, karena harus kembali mengikuti KMM.

Salam dari hangatnya Soto Ting Ting dan panasnya Ayam goreng Tong Tong

Matur nuwun atas kunjungannya ke http://suwargono.wordpress.com/

Ditunggu kedatangannya kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *