Pendapat saya

Sudah lama juga tidak menulis (baik di blog, Sosial Media, WA).
Bismillah, meluruskan niat dulu bahwa tulisan ini “dalam rangka menyayangi” teman-teman dan sahabat (baik di dunia Offline maupun Online) 😀, bukan menasehati, menyindir apalagi menghakimi (siapalah saya). Juga bukan menggurui,
“Aku Berlindung pada Allah Ta’ala dari Sifat Ujub dan Riya, serta dari fitnah Manusia”.

Sekitar 2 Bulan yang lalu, saya menghadiri sebuah Majelis yang membahas Kajian Ilmu bab Warisan. Baik itu bab pembagiannya dimana perempuan mendapat satu bagian dan laki-laki mendapat 2 bagian. Juga tentang wasiat, Hibah dari Ahli Waris dsb (Ustadz Haji Muhammad Syafii).

Saya tidak akan membahas hal tersebut, ada hal yang menarik ketika sesi tanya jawab. Ketika seorang ibu bertanya dengan bagus, ” Ya Ustadz, bagaimana jika sudah terlanjur membagi waris dengan sama bagian” dan Alhamdulillahnya disambung dengan pernyataan menarik sehingga membuat ustadz memberikan jawaban yang menarik juga. Okey kita lanjutkan.
Pertanyaannya adalah ” Ya Ustadz, bagaimana jika sudah terlanjur membagi waris dengan sama bagian”
disambung dengan pernyataan “karena menurut kami lebih adil, laki-laki dan perempuan mendapat bagian yang sama.”

Pak Ustadz Tersenyum dan menjawab, ” Ibu, saya tidak akan menjawab pertanyaan ibu namun saya akan mengomentari pernyataan ibu.”
Ibu bilang “karena menurut kami lebih adil, laki-laki dan perempuan mendapat bagian yang sama.”
Pak Ustadz : “Sebaiknya ibu belajar Tauhid dulu karena pernyataan tadi yang mengatakan “karena menurut kami lebih adil, laki-laki dan perempuan mendapat bagian yang sama.”adalah sebuah pernyataan berbahaya karena Ibu “merasa lebih adil dan lebih pintar dari Allah Ta’ala !” Jlegerrrrr !!!!!! Naudzubillahi Min Dzalik

Saya merinding dan gemetaran, berapa banyak saya dan lainnya merasa lebih adil, lebih bijak dan lebih pintar dari Allah Ta’ala. Astagfirullah, “Aku berlindung kepada Mu dari kejahatan diriku sendiri dan kejahatan orang lain”
Nggak percaya ? ayoook muhasabbah, mengingat-ingat perbuatan dan ucapan kita baik secara langsungn (lisan), status, tulisan2 di blog, Grup-grup WA dan sebagainya.

Allah berfirman dalam Surat Al Qiyamah Ayat 11 sampai dengan 15 : kallaa laa wazara. Ilaa rabbika yauma-idzinil mustaqarru (“Sekali-sekali tidak. Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Rabb-mu sajalah pada hari itu tempat kembali.”) Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair dan lain-lain dari ulama salaf mengatakan: “Yakni tidak ada keselamatan.” Dan ayat tersebut sama dengan firman Allah yang artinya: “Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak pula dapat mengingkari. Demikian pula disini Allah berfirman, laa wazara (“tidak dapat berlindung.”) yakni kalian tidak akan mendapatkan tempat untuk berlindung padanya. Oleh karen itu, Dia berfirman: ilaa rabbika yauma-idzinil mustaqarru (“Hanya kepada Rabb-mu sajalah pada hari itu tempat kembali.”) yakni tempat kembali.

Kemudian Dia berfirman: yunabba-ul insaanu yauma-idzin bimaa qaddama wa akhkhara (“pada hari itu diberitahukan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.”) maksudnya Allah memberitahukan seluruh amal perbuatannya, baik yang lama maupun yang baru, yang pertama maupun yang terakhir, kecil maupun besar, demikian setersunya.

Firman Allah: balil insaanu ‘alaa nafsiHii bashiiratun. Wa lau alqaa ma-‘aadziiraHu (“bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”) maksudnya dia menjadi saksi bagi dirinya sendiri, dia mengetahui apa yang dia kerjakan meskipun dia telah memberikan alasan dan juga penolakan, sebagaimana Dia berfirman: iqra’ kitaabaka kafaa binafsikal yauma ‘alaika hasiiban (“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadap dirimu.”)(al-Israa’: 14).

‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas tentang ayat, balil insaanu ‘alaa nafsiHii bashiiratun (“bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.”) dia mengatakan: “Yakni pendengaran, pandangan, kedua tangan, kedua kaki, dan seluruh anggota tubuhnya.”

Jadi dalam hal agama, pendapat kita tidaklah penting, sungguh tidak penting, apalagi pendapat media massa. Pendapat kita hanya penting untuk diri kita sendiri, untuk dipertanggung jawabkan nantinya.

Panjang juga ya ? padahal saya ingin melanjutkan lagi dengan flashback saya sekitar 1 tahun yang lalu.
Dari salah satu guru saya, Ustadz Haji Bambang Riyanto, pemilik Biro Umroh Saibah Semarang yang mengatakan, “Fori bersyukurlah kita hari ini dimana kita sudah mendapat petunjuk dari Allah melalui Rasulullah”.”Berhati-hatilah dalam berbicara, bertingkah laku dan berpendapat”.”Bisa jadi dulu saat Rasulullah sedang mensyiarkan Agama Allah, Bisa Jadi Kita ini penentang utamanya.” Naudzubillahi min dzalik !!! kok bisa ? Ya, karena kita masih beragama dengan “pendapat kita”. Astaghfirullah, Ampuni Aku Ya Rabb…

Benarkah ? Lihatlah, kita sering mengingkari hukum Allah, Kita sering menghukumi Hadits, Kita sering menghujat Ulama !

Bisa jadi kita termasuk orang yang mengatakan Ajaran Rasulullah tidak masuk akal. Termasuk Quran & Hadits, kenapa ?
Bisa jadi kita mengatakan bahwa Tidak mungkin Kitab Allah diturunkan kepada manusia (Nabi) yg Ummy (tidak bisa baca tulis).

Bisa jadi kita lah yang paling keras tertawanya ketika Nabi Nuh Alaihissalam membangun kapal di atas gunung. Sungguh tidak masuk akal.

Bisa jadi kita termasuk yang menyembelih Unta Nabi Shaleh Alaihissalam karena menurut kita manusia harus lebih didahulukan daripada unta (dalam hal bergantian minum dari sumber mata air/sumur)

Bisa Jadi Kita lah yang menuding Nabi Musa Alaihissalam mengolok-olok ketika Nabi Musa meminta Sapi untuk menyelesaikan kasus pembunuhan.

Bisa jadi kita termasuk yang menentang Nabi Luth Alaihissalam. karena kita berpendapat LGBT adalah Hak Manusia.

Bisa jadi kitalah yang menuduh Maryam sebagai pezina. Karena menurut nalar yg kita dewakan ini tidaklah mungkin mempunyai anak tanpa berhubungan dengan lelaki.

Bisa jadi kitalah yang mengatakan bahwa Nabiyullah Muhammad yang kita cintai ini adalah Penyair yang Gila. Karena banyaknya Hal indah dan tidak masuk akal yang terangkum dalam Al Furqon.

Apakah kemudian Allah menyuruh kita untuk tidak berfikir ? Sama sekali tidak, Allah justru menyuruh kita berpikir.Cuma seringkali kita tidak mendudukkan akal pada tempat. Silahkan cek https://rumaysho.com/776-mendudukkan-akal-pada-tempatnya.ht…

Sungguh akal logika yg selama ini kita gunakan sebenarnya tertutup nafsu, sehingga kita dengan ringan berpendapat dan menghujat orang lain bahkan ulama.

“Astagfirullahal adzim”
“Sungguh Aku berlindung kepada Mu dari kejahatan diriku sendiri dan kejahatan orang lain”
Kutulis ini dengan rasa Cinta pada kalian sahabatku…iya…kalian. I luv u full

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *