Kegagalan, Ego dan Mekanisme Pertahanan dalam kehidupan Etnis Maya

oleh Eko Budhi Suprasetiawan dimuat di

http://ekobs.multiply.com/journal/item/479

/Kegagalan_Ego_dan_Mekanisme_Pertahanan_dalam_kehidupan_

Etnis_Mayapaign=ekobs

Setiap kita mempunyai mimpi yang ingin kita capai. Misalnya kita ingin mempunyai rumah yang lapang, atau menjadi karyawan yang mendapat apresiasi perusahaan,
atau ingin dikenal sebagai aktivis sosial. Untuk meraih mimpi tersebut kita melakukan berbagai aktivitas untuk mendukung tercapainya mimpi. Setiap aktivitas mempunyai target, yang tertulis maupun tidak, yang disadari atau tidak, yang terlihat maupun tidak. Terkadang karena satu dan lain hal, aktivitas tersebut gagal. Target tidak tercapai. Ini bisa disebut sebagai ‘kegagalan mencapai target’.

Tingkah laku orang yang mengalami kegagalan tidak sama. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi hal tsb. Di antaranya adalah terkait sejauh mana dia telah memenuhi kebutuhan hidupnya dalam hirarki kebutuhan Maslow. Menurut pendapat Maslow, manusia bergerak mendaki piramida kebutuhan mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan ego dan kebutuhan aktualisasi diri.

Kebutuhan egoistik menjadi menarik dibahas, khususnya dalam etnis maya, yaitu etnis yang tinggal di kawasan maya. Dalam hirarki kebutuhan Maslow, ini adalah tingkat keempat. Istilah egoistik adalah kebutuhan akan kepentingan diri sendiri. Kebutuhan ini dapat berorientasi ke dalam ataupun ke luar.

Kebutuhan ego yang terarah ke dalam diri mencerminkan kebutuhan individu akan penerimaan diri, harga diri, kesuksesan, kemandirian, kepuasan pribadi atas pekerjaan yang dilaksanakan dengan baik. Kebutuhan ego yang terarah ke luar meliputi kebutuhan akan martabat, nama baik, status dan pengakuan dari orang lain.

Di antara anggota-anggota etnis maya adalah mereka yang sudah mencapai tingkat ke-4 dalam hirarki kebutuhan Maslow. Mereka sudah memenuhi sebagian besar kebutuhan fisiologis (makanan dll), kebutuhan keamanan, dan kebutuhan sosial (kasih sayang).

Mereka bekerja menjadi karyawan, bukan lagi karena kebutuhan makanan, tetapi sudah lebih dari itu. Mereka juga sudah melewati pemenuhan kebutuhan sosial dengan membangun pertemanan, entah di mushola, di tempat golf, di klub hobi seperti fotografi, sepeda dll. Mereka sudah merambah ke tingkat ke-4, kepentingan ego akan martabat, status dan harga diri. Mereka yang menjadi entrepreneur pun demikian. Mereka sudah tercukupi kebutuhan dasar, sudah berjejaring dalam komunitas pengusaha, dan saatnya memenuhi kepentingan egonya.

Bagaimana mereka menghadapi kegagalan dalam aktivitasnya ? Kegagalan ini bisa terjadi dalam aktivitas harian. Sebagai contoh seseorang karyawan yang bekerja dengan baik, tetapi gagal mendapatkan pengakuan dari perusahaannya ? Atau seorang aktivis sosial yang ingin membantu orang lain tetapi ditolak oleh orang yang membutuhkan bantuan ? Atau seorang pengusaha yang mempunyai produk keren tetapi tidak mendapatkan award ?

Salah satu yang bisa terjadi adalah berjalannya apa yang dikenal sebagai ‘mekanisme pertahanan’. Mekanisme pertahanan ini tidak berlaku hanya untuk etnis maya, tetapi anggota-anggota etnis maya mempunyai senjata-senjata yang tidak dimiliki etnis lain, berupa Twitter, Facebook, mailing list, blog, dll.

Mekanisme pertahanan dilakukan orang untuk melindungi ego mereka dari kegagalan ketika mereka tidak mencapai sasaran mereka. Ada berbagai mekanisme pertahanan.

#1 AGRESI
Orang-orang yang mengalami kekecewaan mungkin memperlihatkan perilaku yang agresif dalam usaha melindungi harga diri mereka.

Sebagai contoh, seseorang yang menawarkan bantuan, tetapi ditolak, lalu tersinggung. Orang ini bisa menyerang dengan berbagai bentuk pernyataan.
Misal jika seorang pengusaha hendak membantu orang lain yang miskin, tetapi orang miskin ini menolak, dan kebetulan dia seorang buruh, dia akan berkata :

Dasar mental buruh !

#2 RASIONALISASI
Kadang-kadang orang mendefinisikan kembali situasi yang mengecewakan dengan menciptakan berbagai alasan yang masuk akal terhadap ketidaksanggupan mereka mencapai sasaran mereka.

Sebagai contoh seorang pengusaha yang mempunyai produk keren, tetapi gagal mendapatkan award dalam sebuah kompetisi. Orang ini akan menggunakan rasionalisasi dengan berkata :

Tidak masalah kok ! Award ini tidak berguna untuk bisnis …

#3 REGRESI
Kadang-kadan orang memeberikan reaksi terhadap situasi yang mengecewakan dengan berperilaku kekakan-kanakan dan tidak dewasa.

Sebagai contoh seseorang yang gagal memenangkan tender sebuah pengadaan barang, boleh jadi mengumbar informasi di mailing list, forum dan lain-lain untuk merusak citra proyek pengadaan barang tsb. Sehingga muncullah berita-berita negatif dari mereka yang gagal.

Mereka yang tidak mendapat pengakuan oleh sebuah organisasi bisa menyebarkan kebobrokan organisasi tsb …

#4 PENARIKAN DIRI
Kekecewaan sering dipecahkan dengan hanya menarik diri dari keadaan tsb.

Sebagai contoh seseorang yang merasa tidak didengarkan dalam sebuah komunitas, memilih mengundurkan diri dari komunitas tsb.

#5 PROYEKSI
Seseorang mungkin melemparkan kegagalan atau kesalahannya kepada orang lain.

Sebagai contoh seseorang software developer yang gagal meluncurkan sebuah proyek online, bisa jadi menyalahkan pihak end user, atau customer yang dianggap tidak jelas requirementnya.

#6 AUTISME
Seorang yang autis didominasi oleh kebutuhan emosi, sering tidak menghubungkannya dengan realitas.

Sebagai contoh orang-orang yang hidup di tengah kemiskinan, tetapi mereka bergaya hidup hedonisme dengan band musik dll.

Contoh lain adalah rokok … ketika mereka yang merokok menjadi merasa SUKSES, meski masalah yang sebenarnya mereka hadapi tidak teratasi dengan rokok ini …

#7 IDENTIFIKASI
Kadang-kadang orang mengatasi kekecewaan dengan menyamakan diri mereka secara bawah sadar dengan orang atau situasi lain yang ada kaitannya.

Sebagai contoh orang yang ditolak dalam berdakwah, mudah untuk menyamakan dirinya dengan keadaan Rasulullah saw saat ditolak dalam dakwah.

#8 REPRESI
Untuk mengatasi kekecewaan dengan menekan kebutuhan tsb.

Sebagai contoh orang yang gagal memenuhi sasarannya untuk bisa berdakwah di dunia nyata, menekan kebutuhan tsb dengan menjadi seseorang yang diakui di dunia online. Mereka menghitung kesuksesannya dengan jumlah hit dll.

Tambahan tentang “penarikan diri” dan “represi” dari hasil diskusi di FB

diskusi ttg kegagalan ini ada di kitab PERILAKU KONSUMEN ditulis oleh Leon Schiffman. Jadi gak ada fikrah SABAR di sini … Tapi, at minimum, seseorang yg sabar di sebuah komunitas, BISA JADI, pernah gagal di tempat lain dan memilih melakukan REPRESI …

Misal dia gagal berdakwah di satu tempat, dia kemudian memilih tempat lain dan sabar di sana … itu bentuk mekanisme pertahanan bernama Represi …

Artinya MEKANISME PERTAHANAN adalah sebenarnya juga jalan untuk sukses …
dan itu bisa jadi juga bentuk ke SABAR-an, selama comply dgn syariah …

Misal Rasulullah ditolak dakwah di thaif, beliau Sabar tetapi dengan melakukan ‘penarikan diri’ dari Thaif kan ? Atau sebaliknya saat ‘gagal’ mengajak bangsa Yahudi di khaibar agar berdamai, beliau melakukan ‘agresi’ …

Semua itu dilakukan karena Allah, dalam kesabaran tinggi, dan dengan comply ke syariah …

Demikianlah, mekanisme pertahanan bukan sesuatu yang terbatas dimiliki oleh etnis maya. Tetapi pengamatan terhadap kehidupan etnis maya, bisa menunjukkan bahwa :

1.Kegagalan adalah hal lumrah yang bisa dialami oleh anggota-anggota etnis maya
2.Terdapat banyak mekanisme pertahanan yang bisa dilakukan
3.Kita boleh memilih mekanisme pertahanan masing-masing, dan tingkah laku kita dalam bisa jadi berbeda dalam satu kasus dan kasus lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *