Jurnal Umroh Day 6, Makkah Journey

Tempat Pertama yang kita  (Jamaah Umroh Saibah) Datangi dalam Ziarah di Sekitar Mekkah Adalah Jabal Nur, sebuah gunung dimana Malaikat Jibril pada 17 Rajab turun membawa wahyu yang pertama tersebut kepada Nabi Muhammad SAW yang berada di dalamnya. Gunung ini terletak di sebelah tenggara, 4 km dari kota Makkah, yaitu dekat dengan jalan Mina menuju Arafah. Karena adanya perluasan wilayah, sekarang gunung ini berada di dalam Makkah.

Dalam kitab Taurat, jabal ini disebut dengan jabal Faron, atau juga dikenal orang-orang dengan sebutan Jabal Nur. Jabal ini terpisah dari gunung-gunung yang ada di Makkah. Di gunung ini terdapat gua Hira yang menambah kehebatan dan keagungan gunung tersebut.

Di jabal ini teradapat gua yang dinamai Gua Hira. Gua ini tidak dimasuki sinar matahari dari sejak terbit hingga tenggelamnya. Sehingga orang yang berada di dalamnya tidak akan merasakan sengatan matahari. Di gua inilah, Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertamanya dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Mahamulia. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui.” (QS Al-Alaq 1-5).

Ahli sejarah mengatakan, Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul telah melakukan uzlah di dalamnya selama 3-5 tahun, beliau beribadah, dan bertahajud. Bahkan di bulan Ramadhan satu bulan penuh beribadah, beliau bertafakkur dan mengasah jiwanya di sana.

Istrinya Khadijah selalu datang dengan membawa makanan dan minuman ke sana. Dia lewat jalan yang terjal menuju gua dengan sangat berat dan susah yang memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Itu semua dilakukan demi mendapat ridha Allah dan Nabinya.

Diriwayatkan dari Khodijah RA, “Sesunggunya Nabi telah menyendiri di Gua hira. Beliau melihat mimpi yang benar sampai kemudian Jibril turun membawa wahyu, lalu Nabi pulang ke rumahnya dengan gemetar. Lalu beliau menceritakan kepada istrinya kejadian yang telah menimpanya, dann Khodijah memberitahukan hal itu kepada Waroqoh bin Naufal. Waroqoh memberi kabar gembira tentang kenabiannya seraya berkata, “Sesungguhnya dia adalah Nabi umat ini.”

Kemudian kita menuju jabal Tsur. selatan kota Mekkah, ada bukit yang menjadi saksi sejarah keajaiban yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Bukit tersebut adalah Jabal Tsur.

Bukit ini mempunyai tiga puncak yang saling berdekatan dan menyambung. Bukit itu termasuk salah satu yang tertinggi di Kota Makkah. Di puncaknya, ada sebuah gua yang sangat bersejarah, yakni Gua Tsur.

Para jamaah haji maupun umrah pada umumnya selalu mengunjungi lokasi ini ketika sedang berada di Tanah Suci. Di gua yang berada di Jabal Tsur itulah Rasulullah SAW diselamatkan dari orang Quraisy yang mengejarnya.

Dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah tercatat pada 622 Masehi, ketika itu Rasulullah dan para sahabatnya akan melakukan hijrah dari Kota Makkah menuju ke lokasi baru yang nantinya bernama Madinah.

Hijrah ini dilakukan karena Rasululah mendapatkan banyak ancaman dari kaum kafir. Masa itu merupakan waktu yang kelam bagi umat Islam. Masa yang sangat sulit untuk menegakkan agama Allah.

Bahkan dalam musyawarah yang panjang di Darun Nadwah, para pemuka Quraisy memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Mereka mengirimkan para pemuda perkasa yang berasal dari tiap-tiap kabilah Quraisy untuk menjadi algojo.

Masing-masing dilengkapi dengan sebilah pedang. Alasan keterlibatan lebih dari satu kabilah agar Bani Hasyim dan Bani Muthallib, Kabilah Rasulullah berasal, tidak menuntut balas. Sebab, mayoritas kabilah Quraisy terlibat.

Pada malam yang telah ditetapkan para pemuda ini mengepung rumah nabi dari segala penjuru. Lewat tengah malam, Nabi Muhammad SAW menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat pembaringan dan memakai selimut yang biasa dipakai Rasulullah SAW.

Atas kekuasaan Allah tak seorang pun di antara para musuhnya yang melihat kepergian Nabi Muhammad SAW. Beliau lalu menuju rumah sahabatnya Abu Bakar untuk melarikan diri ke arah Jabal Tsur.

Setelah tersadar, para pemuda Quraisy ini kemudian masuk ke rumah. Alih-alih menemukan Rasulullah, mereka hanya melihat Ali bin Abi Thalib yang berpura-pura menggantikan nabi tidur.

Rasulullah pun terus diburu oleh para kaum kafir di Makkah. Mereka mengejar dan berusaha untuk membunuhnya.  Rasulullah dan sahabat yang menemaninya, Abu Bakar Ra, terus berlari dan menyelamatkan diri.

Meski berat dalam memperjuangkan tegaknya Islam, Rasulullah tetap teguh berjuang dan tak pernah lelah berdoa. Ketika dikejar oleh kaum Quraisy di sekitar Jabal Tsur, Rasulullah pun menemukan Gua Tsur.

Gua ini tidak terlalu besar, hanya cukup dimasuki orang tanpa berdiri tegak. Selama tiga hari tiga malam Rasulullah bersembunyi di sana.

Keajaiban pun terjadi. Pertolongan Allah SWT kepada Rasulullah muncul ketika sangat dibutuhkan. Saat kaum Quraisy tiba di depan gua, secara ajaib terdapat sarang laba-laba yang menutup mulut gua, juga sarang burung merpati.

Dalam waktu yang sangat singkat, makhluk-makhluk Allah ini berusaha melindungi Rasulullah dengan membuat sarang besar yang biasanya harus dibuat dalam waktu yang lama.

Pengorbanan dilakukan Abu Bakar Ra. Saat berada di dalam gua yang sempit itu, dengan kondisi tubuh yang lelah karena berlari dari kejaran kaum kafir, ia tak memperlihatkan rasa letih di depan Rasulullah. Ia pun mempersilakan Rasulullah SAW untuk tidur di pangkuannya.

Saat itu, tiba-tiba keluar seekor ular berbisa dari lubang di dalam gua. Abu Bakar berusaha menghalaunya agar ular tersebut tak mendekati Rasulullah.

Malang, justru dialah yang tergigit ular berbisa itu. Ia langsung mengigil dan demam karena gigitan ular tersebut. Meski keringat dingin mengucur dari wajah dan tubuhnya, ia tetap bergeming, tak ingin membuat tidur Rasulullah terganggu.

Pengorbanan lain juga dilakukan Asma binti Abu Bakar RA. Perempuan salihah ini berusaha selalu memberikan suplai makanan kepada Rasulullah yang sedang bersembunyi di dalam gua. Risiko besar dihadapinya, ia selalu mengendap-endap agar tidak ketahuan kaum kafir saat menuju Gua Tsur.

Oleh karena itu, gua sempit ini bukan sembarang gua. Di sanalah pernah terjadi sebuah peristiwa yang
memperlihatkan perjuangan penegakan Islam pada masa awalnya.

Gua ini menjadi saksi bisu pengorbanan kaum Muslim juga wujud nyata pertolongan Allah, sebuah keajaiban akan datang bagi hambanya yang sedang dalam kesulitan.

Peristiwa tersebut tertuang dalam Alquran, tepatnya di surah at-Taubah ayat 40. Di dalamnya dijelaskan, “Bila kamu tidak mau menolong Rasulullah maka Allah SWT telah menjamin menolongnya ketika orang-orang kafir.
mengusirnya berdua dengan sahabatnya. Ketika keduanya berada dalam gua, dia berkata kepada sahabatnya ‘janganlah engkau berdukacita karena Allah SWT bersama kita’.

Lalu Allah SWT menurunkan ketenangan hati kepada (Muhammad) dan membantunya dengan pasukan-pasukan yang tiada tampak olehmu.

Dijadikan-Nya kepercayaan orang-orang kafir paling rendah dan agama Allah SWT menduduki tempat teratas, Allah SWT Maha perkasa lagi Mahabijaksana.

Setelah di Jabal tsur kita menuju ke Jabal Rahmah dimana Nabi Adam dan Ibu Hawa Bertemu

Jabal Rahmah adalah lokasi dimana nabi Adam dipertemukan kembali dengan istrinya Hawa setelah berpisah selama 200 – 300 tahun lamanya.

Nabi Adam merasa rindu dengan istrinya hingga Allah SWT memerintahkan Adam melaksanakan ibadah haji ke Kota Mekah.

Tertulis pada kitab Ara’is Al Majlis karya Al Tsa’aibi, Allah mewahyukan kepada Nabi Adam,

“Aku memiliki tanah Haram (terhormat) dalam posisi sejajar dengan singgasana-Ku (Arasy). Karena itu, datanglah ke sana dan berkelilinglah (thawaf) sebagaimana dikelilinginya singgasana-Ku. Shalatlah disana sebagaimana dilaksanakan shalat di sisi singgasana-Ku. Disanalah Aku memperkenankan Doa mu”

Mayoritas para Ulama berpendapat, Adam dan Hawa diturunkan secara terpisah. Nabi Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah.

Maka atas bantuan dan bimbingan Malaikat Jibril, nabi Adam pun berangkat menuju kota Mekah dari India. Nabi Adam dan Hawa saling mendekat di Muzdhalifah, lalu saling mengenali di Arafah, berkumpul di jabal Rahmah.

Oh ya Muzdhalifah Sendiri artinya kepleset, karena di lokasi itulah Nabi Adam yang tergesa-gesa karena melihat bayangan Ibu Hawa sehingga terpeleset.

Mina

Kemudian kita Pulang melewati Mina dan Menuju Masjid Jironah untuk mengambil Miqot Umroh yang kedua. umroh yang kedua saya laksanakan sendirian karena untuk menjaga  kondisi fisik istri yang mengandung 3 bulan tidak bisa dipaksakan.

Umroh yang kedua ini saya tujukan untuk Bapak saya, Haji Leman Suwarso. dengan Harapan Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan menerima amal ibadah beliau. Sungguh Umroh kedua ini saya laksanakan dengan terus-terusan berlinang airmata. Saya memisahkan diri dengan jamaah yang lain karena pada umroh kedua ini saya ingin lebih banyak menghayati dan mendoakan keluarga, orangtua, saudara dan sahabat-sahabat saya. Panggilah kami semua menuju Baitullah Ya Rabb, yang Maha Pemurah. Ampuni Dosa Kami, terima Amal Ibadah Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *