Journey to West (I’tikaf, day one)

Jumat 2 minggu lalu, saya diajak mas Alfian berangkat ke Jakarta untuk bersilaturahim ke beberapa sahabat di Jakarta. Selain itu ada niatan dari mas Alfian untuk ber –ijtima (berkumpul) di markas (menyebut masjid yang biasa digunakan untuk ijtima) dan ber I’tikaf (berdiam diri di mesjid)di mesjid Kebun Jeruk jl.Hayam Wuruk Jakarta. Terus terang tadinya saya merasa biasa saja (mungkin juga karena memang belum mengetahui dan mengenal), sampai kemudian Kamis Sore itu kami berlima yakni Saya, Mas Alfian, Mas Zaky, Mas Romy dan Mas Betha (adik mas Alfian) tiba di mesjid. Saya langsung merasa takjub begitu banyaknya massa yang sudah berkumpul didalam maupun di luar mesjid. Mulai dari Jamaah yang berjalan kaki sampai yang menggunakan Mobil.

Ketika mulai melepas sandal di beranda, saya sudah merasa kebingungan karena banyaknya Jamaah yang berlalu lalang. Selesai Sholat Maghrib, di mulailah ceramah oleh Bayan dimana pada saat itu adalah penderita tuna rungu sehingga komunikasinya menggunakan bahasa isyarat yang diartikan oleh seseorang dengan bahasa Hindia (sepertinya) kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karena tidak terlalu memperhatikan ceramah, saya celingukan melihat suasana. Kemudian timbul rasa takut, Ya rasa takut karena melihat di sekeliling saya banyak sekali orang berjenggot, berjubah dan bersurban. Selama sekitar 20 menit saya masih merasakan ketakutan dalam hati saya melihat mereka begitu serius mengikuti ceramah.

Rasa takut saya berubah ketika punggung saya di elus salah seorang di sebelah belakang saya. Beliau dengan tutur kata halus menanyakan apakah saya baru pertama kali datang. Saya mengangguk dan disambut dengan senyum beliau ( saya baru menyadari bahwa saya mungkin satu-satunya jamaah yang memakai T Shirt dan Celana Jean).  Subhanallah, rasa takut saya hilang dengan muka hadirnya muka-muka ramah yang penuh dengan senyuman.

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Al Ra’d:28)

 

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. AlFath:18)

Hal itu menjadikan kemudian saya berpikir betapa naifnya saya dengan rasa takut saya, apakah ini mungkin karena saya terlalu banyak dicekoki berita di koran,televisi maupun media massa lainnya sehingga alam bawah sadar saya terpengaruh?padahal saya dari kecil tidak begitu suka nonton televisi dan sudah mulai meninggalkan baca Koran, kenapa?karena terlalu banyak berita negative!( Bagaimana dengan orang yang suka menonton atau bahkan menghabiskan waktu di depan tv ya?) Berita dimana seringkali diulas dan diulang-ulang mengenai teroris dengan penampilan islami (berjenggot, berjubah dan bersurban). Sungguh fitnah yang keji terhadap kaum muslim! Kemudian saya menjadi malu karena walaupun saya sendiri Muslim dari lahir, tapi memandang dengan stereotip negative terhadap sesama muslim. Ya Rabb, ampunilah hamba yang selama ini buta karena informasi yang tidak benar.

Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sama wal bashoro wal fuaada, kullu ulaaika kaana anhu masula. (QS. Al-Isra : 36)

(Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan)

Setelah agak tenang hati ini baru saya mulai bisa mencerna isi ceramah yang disampaikan Bayan. Dimana Bayan menerangkan perlunya berdakwah bagi umat muslim. Berdakwah dengan lemah lembut, berdakwah dengan tawadu.

Waqshid fi masyika waghdud min shoutik (QS. Lukman : 19)

(Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu)

Berdakwah agar umat muslim benar-benar berperilaku mencontoh Rasulullah SAW. Berdakwah agar bukan hanya mengerjakan yang wajib namun melaksanakan Sunnah Rasul. Berdakwah agar umat muslim meramaikan masjid dengan Sholat Berjamaah di Mesjid. Berdakwah walaupun sedikit ilmu kita, sedikit namun bermanfaat lebih baik daripada banyak tapi cuma sebagai pengetahuan.

Maha suci Allah yang dengan karuniaNya membukakan mata hati hambaNya.

“Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.” (QS. Al-Hadid : 21)

(“Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah

pemberi karunia yang besar”)

Usai ceramah Bayan mengumunkan (lebih tepatnya menawarkan) kepada para jamaah untuk Jaullah (keluar dar rumah untuk berdakwah)ke beberapa Negara seperti Amerika dan Eropa, Afrika, IPB (India, Pakistan, Bangladesh), Timur Tengah dan beberapa tempat di dalam negeri selama kurang lebih 4 bulan, atau 40 hari atau 3 hari setiap bulan. Semua itu dengan biaya yang di keluarkan sendiri.


Pasar

Setelah mengikuti ceramah, kami berlima berkeliling di pasar yang ada di sekitar masjid. Di pasar tersebut tersedia berbagai macam barang dari Siwak, obat-obatan Herbal, Sarung, Baju, Minyak Wangi, makanan dan lainnya. Bahkan ada yang membuka lapak pengobatan Bekam dan Lintah. Kami coba Teh Chae dari India.

Kami masuk ke Mesjid kembali sekitar pukul 21.00 WIB. Kemudian mas Alfian mengajak makan bersama. Sebuah hal baru dan menarik lagi bagi saya. Mas Alfian membeli nasi dengan lauk Gule dan Krupuk seharga Rp.10.000 (sepuluh ribu), berapa ukurannya boss? 1 Nampan Besar !!!

Hal lain yang menarik adalah ketika mas Alfian menerangkan adab makan sesuai dengan sunah Rasul.

  1. Memakai tangan kanan (kalau pakai kaki kanan susah boss !)
  2. Sambil duduk lesehan kaki kanan diangkat kaki kiri ditekuk (maaf susah nerangin di bahasa Indonesia, kalau di bahasa Jawa ; Nengkrang ;kayak di warung). Agar komposisi yang ada di tubuh kita yakni Air, Udara dan Makanan seimbang. Karena seringkali Makanan ini terlalu mendominasi dalam tubuh kita sehingga mengganggu bukan hanya kesehatan namun juga nafsu.
  3. Ada sedikit garam buat dicocol. Garam adalah sumber mineral.
  4. Tidak menyisakan sedikitpun makanan dan atau sebutirpun nasi.

Selesai makan, sambil ngobrol di halaman mesjid, tiba-tiba dapat rejeki dikasih pepaya sama jamaah yang  lewat, Alhamdulillahirabill alamin.

Terus terang saya masih penasaran dengan “Amalan Dakwah dari Jamaah”. Dari beberapa sumber yang saya dapatkan (antara lain Haji Alay dari Tanah Abang dan Pak Faisal dari www.padangplusresto.com  ) menyebutkan bahwa jamaah dengan amalan dakwah ini sudah menyebar di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri banyak bersebaran di beberapa daerah, umumnya mereka berdiam diri di mesjid-mesjid secara tersebar untuk mengajak umat Muslim sholat berjamaah di Mesjid. Selama berJaullah,mereka membawa peralatan masak sendiri sehingga seringkali disebut juga jamaah kompor atau jamaah panci. Semua pengeluaran mereka sendiri yang menanggung, termasuk jika pergi ke negeri jauh (luar negeri). Karena mengikuti para sahabat Rasulullah SAW, seperti Umar r.a,Abubakar  r.a yang mana selain menyedekahkan sebagian hartanya, mereka juga ikut terjun secara langsung dan aktif dalam menggalakkan dakwah Islam. Dakwah adalah cara cepat mendekatkan diri ke Allah SWT tanpa memandang derajat, pangkat, kekayaan, keilmuan dll.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB, kami segera naik ke lantai 2 masjid untuk beristirahat. Siap-siap tidur di lantai beralaskan kain atau lainnya.

Terima kasih atas waktunya mau membaca pengalaman saya. Semoga Allah meninggikan derajat keImanan kita semua. Wassalamu alaikum wr.wb.

4 thoughts on “Journey to West (I’tikaf, day one)

  1. rommy

    Nikmatnya berkumpul dengan teman2 yang mempunyai visi dan misi sama, sungguh pengalaman luar biasa. apalagi ketika mendengarkan Tausiyah Subuh [soal pengorbanan Nabi Nuh As.
    Kapan2 Kita kesana lagi dengan persiapan lebih matang

  2. M. Kurniawan YH

    Habis ini bisa mencoba iktikaf 3 Hari Mas. Kalau dengan niat yang betul dan dilaksanakan dengan tertib InsyAllah akan banyak memberikan perbaikan diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *