Jadilah Jenderal jangan jadi Prajurit

Ditulis berdasarkan apa yang disampaikan Pak Harmanto kepada Fori Suwargono seperti Agus Salim kepada Soekarno, seperti Kresna kepada Janaka, seperti Socrates kepada Plato, Seperti seorang bapak kepada anak !!!.

Assalamu alaikum wr.wb

Pagi ini (26 mei 2010) sudah mempunyai tekad yang bulat untuk berangkat ke Hotel Patra Jasa Semarang menemui Pak Harmanto setelah sehari sebelumnya di guyur ilmu-ilmu beliau di sela-sela acara pelatihan Wirausaha Diknas dimana Oma Ning Harmanto sebagai salah satu pembicara. Banyak sekali saya mendapatkan ilmu dari Pak Harmanto sehingga saya semakin lapar dan haus untuk mendapatkannya lagi.

Alhamdulillah, ternyata di Restoran Hotel Patra Jasa pak Harmanto sedang berbincang dengan mas Ilik dan tak lama kemudian mas Wahju Anjar bergabung. Tampaknya saya terlambat gabung karena pembicaraan sedang seru-serunya. Ketika saya bergabung mereka sedang sharing tentang “The Power of Giving” (akan saya sampaikan di tulisan lain) dan mas Wahyu menjelaskan mengenai “Obsesi terbesar kita” (akan saya sampaikan juga di tulisan lain).

Setelah mas Ilik pamit dan mas Anjar ada tamu segera Pak Harmanto mengajak saya pindah ke ruang lain. Wah kesempatan nih, saya akan dapat ilmu lagi !!! Meminjam kata dari Pak Nursalim segera saya “buka tutup gelas saya dan mengosongkan isi gelasnya” ( berpikiran terbuka dan siap menampung masukan lagi).

Singkatnya saya segera menanyakan kepada Pak Harmanto bagaimana bisa sukses menjadi pengusaha bukan pedagang. Segera Bapak bercerita tentang kisah beliau sendiri ketika bekerja di Astra, sebuah perusahaan besar di Indonesia dimana waktu itu posisi atau jabatan bapak sudah lumayan tinggi, semua berjalan dengan lancar dan biasa saja sampai pada suatu hari bapak di datangi mantan atasan beliau.

Mantan atasan bapak bertanya : “Har, kapan kamu akan pensiun?”

Bapak menjawab : “sekitar 10 tahun lagi pak, memang kenapa?”

kemudian ditanya lagi : “kamu sudah siap?”

bapak berpikir, kenapa lagi ini bukannya waktu 10 tahun masih lama, mengapa harus disiapkan dari sekarang.

Mantan atasan bapak tampaknya mengetahui kemasygulan itu. Dan berkata :

“ Har, bekerja di Astra itu ibarat kamu dipinjami rumah yang sangat bagus, segala sesuatunya tersedia dan kamu sangat nyaman berada di dalamnya dan nanti 10 tahun lagi kamu akan berdiri didepan pintu rumahmu dan kamu dilarang masuk kedalamnya ! Karena sejatinya memang benar bahwa itu bukan rumahmu !”

Duarrrrrrrrr, bagai petir di siang bolong, bapak tersentak di beri sebuah kenyataan yang selama ini tertutupi oleh segala macam kenyamanan fasilitas. “that is enough” Setelah pertemuan itu bapak segera berdiskusi dengan Oma Ning dan segera mengambil keputusan untuk resign. Perusahaan sebesar Astra tentu tidak ingin kehilangan salah satu asetnya yang berharga dan tidak menerima mentah-mentah pengajuan resign bapak. Dan memberikan libur cuti selama 2 minggu dan jalan-jalan keluar negeri. Bayangkan ! mau resign kok malah disuruh jalan-jalan, dibiayain pula ! Bapak diminta untuk memikirkan ulang pengajuan resignnya. Tapi apa ?Setelah pulang bukannya tidak jadi resign tapi malah semakin yakin seyakin-yakinnya untuk resign !

Akhirnya resign lah Bapak Harmanto setelah 20 tahun berkarir di Astra.

Pada saat resign Bapak dan Oma benar-benar memulai segala sesuatunya dari nol kembali. Oma memulai usahanya dengan membuat Handycraft berupa mainan anak yang berukuran kecil. Saya tidak akan bercerita bagaimana sejarah usaha Bapak dan Oma mulai dari handycraft, salon sampai produk Herbal karena selain akan sangat panjang juga pengetahuan saya yang kurang mengenai sejarah tersebut.

Be General  not Private

Saya akan langsung saja ke bagian di mana bapak mempunyai kiat dalam berwirausaha.  Bapak berkata kepada saya : “ Fori, jika kamu ingin jadi pengusaha bukan pedagang, jadilah jenderal bukan prajurit !” Berpikirlah seperti jenderal dan berbuatlah seperti Jenderal !

Kenapa Jenderal ? Ada apa dengan prajurit ? anda tahu dari turunan apakah kata Jenderal itu ? ya, dari kata General yang dalam kamus bahasa inggris berarti umum sedangkan prajurit berasal dari kata Private yang berarti pribadi atau khusus. Menjadi jenderal itu harus mengurusi semua hal, mulai dari taktik hingga logistik.

Untuk menjadi seorang pengusaha kita harus menguasai banyak ilmu. Ingat ! menguasai atau mengetahui bukan mahir ! Karena jika kita mahir atau hebat dalam suatu ilmu maka kita hanya akan jadi pedagang, jadi Prajurit /Private ! Bukan Pengusaha. Kenapa ? kenapa harus mengetahui banyak ilmu ? Ya, untuk menjadi seorang pengusaha dimana kita mempunyai karyawan untuk di pekerjakan. Carilah orang yang mahir untuk dipekerjakan. Bukan kita yang mengerjakan, namun kita tetap harus tahu ilmu tersebut. Sewalah seorang marketer yang handal untuk menjual produk anda, rawatlah seorang akuntan yang jujur untuk mengatur keuangan anda, Sayangilah seorang manager yang jenius agar dapat meng-aransemen semua komponen perusahaan anda, dsb….dsb. Tapi semua tetap ada dalam kendali anda, karena anda adalah seorang Marketer ! anda adalah Akuntan ! anda adalah Manager ! Anda adalah Owner !!! Diatas anda, yang bisa memerintah anda adalah Tuhan ! tidak ada yang lain.

Anda hanya akan menjadi prajurit jika anda terlalu mahir memainkan suatu peran. Mohon maaf, anda hanya akan menjadi seorang hacker jika terlalu jago akan komputer, anda tidak akan mempunyai sebuah perusahaan IT. Mohon maaf, anda hanya akan menjadi seorang bankir jika terlalu pintar mengatur keuangan, anda tidak akan mempunyai sebuah Bank. Mohon maaf, anda hanya akan menjadi seorang dokter ahli  jika anda ahli dalam pengobatan tetapi anda tidak akan mempunyai sebuah Rumah Sakit !

Mohon maaf bukan berarti semua pekerjaan selain pengusaha buruk, Sama sekali bukan. Semua Pekerjaan bagi saya adalah baik, semua pekerjaan adalah amanah, namun fokus kita dalam hal ini adalah bagaimana menjadi seorang pengusaha.(redaksi)

Kita harus tahu ilmu marketing karena kita akan terlibat dalam segala macam bagaimana menjual produk anda. Kita tidak perlu mahir dengan segala macam hitungan akuntansi yang njlimet, kita hanya perlu tahu bagaimana membaca sebuah pembukuan kas. Kita hanya perlu tahu bagaimana organisasi perusahaan kita bekerja, biarlah manager kita yang jenius yang memikirkan bagaimana mengoptimalkan semua sumber daya yang ada.

Kita hanya perlu mengarahkan bagaimana sebaiknya mereka bekerja. Dan bagaimana kita bisa mengarahkan mereka jika kita tidak tahu ilmunya ? Disinilah intinya, inilah jawaban kenapa kita harus menjadi Jenderal bukan seorang Prajurit.

Menjadi seorang murid

Setelah menyerap ilmu bapak tentang bagaimana menjadi seorang pengusaha, saya langsung tahu bahwa ilmu ini cuma sedikit dari banyak ilmu yang di punyai bapak, insting saya langsung bergerak. Dan dengan sedikit rasa sungkan saya meminta ijin kepada Bapak Harmanto untuk menjadi murid bapak, seperti Soekarno kepada Agus Salim, seperti Janaka kepada Kresna, seperti Plato kepada Socrates, seperti seorang anak kepada bapaknya.

Seperti yang pernah disampaikan oleh Bapak Hadi Kuntoro, Raja Selimut, Jadikanlah seorang pengusaha yang sukses menjadi Guru anda dimana anda akan menjadi murid yang baik. Buatlah mereka mau berbagi dengan anda, menuntun anda karena semua ilmu memang harus digurukan agar anda tidak tersesat terlalu jauh karena ada yang mengingatkan anda.

Akhirnya bapak bersedia menjadi guru saya bergabung dengan guru-guru saya yang lain seperti KH. Mukhrim (trenggalek), Bp. Sukardi ( Majalah Marketing ), KH. Yaslo ( Semarang). Terima kasih yang sebesar-besarnya akan curahan keilmuannya kepada saya, sehingga nantinya bisa saya sharing kepada teman-teman yang lain.

Bapak juga mengutarakan bahwa berguru itu bisa kepada siapa saja, anak kita, teman kita, pengusaha, pedagang, pengemis, gelandangan, dsb…..dsb. Dan ilmu pengetahuan kita harus kita sharing ke semua orang agar kita semakin pintar.

Kepada teman-teman yang mau mengenal keilmuan lain, bapak Harmanto berkenan berbagi di www.topmdi.net dan di www.javastory-international.com

Akhir kata. Terima kasih

Salam hangat dari saya

Wassalamu alaikum wr.wb

2 thoughts on “Jadilah Jenderal jangan jadi Prajurit

  1. becakmabur

    Assalamualaikum..
    Luar biasa mas fori, ilmunya. untuk menjadi pengusaha, memang harus menguasai berbagai ilmu, minimal tahu siapa yang menguasai.
    meminta ijin juga, bolehkah kami jadi muridnya njenengan mas..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *