DIA (kayaknya) ORANG BAIK

Dari sahabat di Bogor Ustadz Muhammad Rosyidi Aziz.

Alkisah..
Ada seorang laki-laki berkata kepada Umar,
“Sesungguhnya si fulan itu orangnya baik.”

Umar bertanya, “Apakah engkau pernah bersafar bersamanya?”
Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.”

Umar bertanya, “Apakah engkau pernah bermuamalah (berbisnis) dengannya?”
Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.”

Umar bertanya, “Apakah engkau pernah memberinya amanah?”
Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.”

Umar berkata, “Kalau begitu engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. Barangkali engkau hanya melihat dia sholat di Masjid.”

[Mawa’idz shohabah]
—-
Kenapa perlu menanyakan tiga perkara tersebut?
1. Karena dengan safar perjalanan jauh, kita dapat mengetahui karakter dan watak seseorang sesungguhnya. Bukankah safar biasanya capek dan melelahkan? disitulah akan tampak watak asli seseorang.

2. Karena dengan berbisnis dan bermuamalah dengannya, kita dapat mengetahui akhlak seseorang dan keterikatannya dengan hukum syara’. Bukankah banyak orang yang kelihatannya baik, sholih dan hebat ternyata payah ketika berbisnis? juga bodoh tentang hukum-hukum syariah dalam berbisnis?

3. Karena dengan memberinya amanah, kita dapat mengetahui kadar tanggungjawab dan amanah seseorang, dan itu akan nampak sekali ketika mengelola bisnis dan memegang uang.

Lantas,
Bagaimana dengan kita ?
Sudah layakkah untuk dibilang sebagai orang baik?

One thought on “DIA (kayaknya) ORANG BAIK

  1. Pingback: DIA (kayaknya) ORANG BAIK 2 | FORI SUWARGONO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *