Agar Daging Qurban Tetap Bersahabat dengan Jantung Anda

Kita dapat menyiasati daging dengan bijak agar ia tetap bersahabat dengan tubuh kita sehingga tidak mengancam.

Pertama, ingatlah rambu-rambu Allah, “kuluu wasyrabuu, walaa tusrifuu…” Silakan saja makan dan minum, tapi jangan berlebihan. Sebagian dokter menganjurkan kita memakan daging maksimal 180 gram sehari. Tetapi dalam hitungan saya sebagai dietesien, jumlah itu masih terlalu besar. Takaran paling ideal bagi kita adalah maksimal 50 gram sehari bagi yang berat badannya ideal (ingat kembali dengan IMT yang pernah Anda pelajari di artikel sebelumnya), dan cukup 35 gram sehari bagi Anda yang memiliki berat badan di atas normal!. Untuk memenuhi kebutuhan prouein hewani, Anda dapat memvariasikannya dengan ikan dan daging unggas (ayam)

Kok kecil sekali takarannya? Itulah rambu dari Allah kalau kita ingin sehat. Hikmahnya adalah, memang daging qurban diperuntukkan bagi kaum duafa yang rata-rata kekurangan protein dan tidak bermasalah dengan kelebihan kolesterol. Itulah rahasia Allah, mengapa qurban menggunakan domba, sapi, atau unta karena daging hewan ini amat cocok untuk kaum duafa dan kurang cocok bagi kaum yang makmur. Bayangkan kalau qurban itu boleh dengan ayam atau ikan (misalnya satu orang boleh berqurban duapuluh ekor ayam atau tiga puluh kilo ikan), maka orang-orang kaya akan tetap leluasa memakannya karena ayam dan ikan aman bagi orang berkelebihan berat badan, sementara itu misi sosial (hablum minannaas) tidak terpenuhi. Jadi, bahasa sederhananya, daging domba dan sapi memang tidak aman bagi golongan kaya, tetapi amat dibutuhkan bagi saudara-saudara kaum duafa. Indahnya skenario Allah.

Kedua, olahlah daging dengan meminimalisir penggunaan minyak. Contohnya dengan cara mengukus dan merebus (misalnya sup, soto) tanpa menambahkan santan kental. Jika ingin menggunakan minyak maka pengolahan yang tepat yaitu dengan menumis. Dan sebaiknya minyak yang digunakan untuk menumis adalah minyak minyak jagung, minyak zaitun, atau minyak wijen yang rendah kalori.

Cara pengolahan lainnya yaitu dengan dibakar atau dipanggang. Dengan cara ini, lemak daging meleleh kemudian menetes jatuh atau menguap saat terkena panas sehingga kadarnya berkurang. Namun demikian, jangan sampai terlalu banyak bagian daging yang terbakar (gosong kehitaman), karena bagian ini adalah karsinogen yang diduga menjadi salah satu pemicu kanker. Panggangan setengah matang juga tidak baik karena tidak semua daging steril dari virus atau bibit penyakit lain. Pemanggangan yang baik adalah dengan api yang kecil tetapi dilakukan dengan waktu yang agak lama. Jadi, daging matang penuh sampai dalam, tetapi tidak ada bagian yang gosong.

Ketiga, selama mengkonsumsi daging, konsumsilah sayuran dan buah dengan jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan porsi dagingnya. Biasanya menu pada saat hari raya iedul adha adalah gulai atau sate kambing, sambel goreng kentang krecek atau sambel goreng tempe. Menu ini tentu saja rendah serat, karena tidak menyertakan hidangan sayuran ataupun buah-buahan. Hal ini terjadi di hampir seluruh rumah ketika qurban datang.

Contoh menu yang baik adalah makan nasi dengan sepotong tiga tusuk sate atau bistik, ditemani tumis buncis dan wortel atau acar ketimun dan wortel serta jus tomat mix mangga (hmm yummy..). Mentimun, bengkuang, wortel, tomat, dan mangga adalah bahan lokal yang murah tapi manfaatnya sangat dahsyat untuk kesehatan jantung kita.

Selamat menikmati hidangan Allah.

sumber : http://www.fimadani.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *